Halo Pengunjung Yang Terhormat
Rabu, 31 Agustus 2011
Anak kelasku 5 tahun yang lalu :D
MARS TPA
Waktu halal bihalal di masjid tadi, aku liat di papan tulis yang biasa dipake untuk TPA anak-anak. Disitu ada teks mars TPA. Hmm jadi inget waktu muda dulu (emang sekarang udah tua??), kita anak-anak TPA suka nyanyiin lagu itu apalagi kalo ada acara sebangsa nuzulul quran gitu. Ternyata lagunya masih sama.....Ini nih....
Gema tulis baca AlQuran membahana
gegap gempita di penjuru nusantara
di ufuk timur fajar terang nan berseri
seiring tegaknya generasi Qurani
berbahagialah insan dan beriman
kedudukan tinggi di hadapan Allah
putera puteri Islam bangkitlah serentak
membina pribadi insan dan islami
tegak berdiri santri tka tpa
rajin mengaji mengamalkan quran suci
berbakti pada Allah serta ibu bapak
berbudi luhur menjunjung martabat bangsa
Lebaran ga mudik...
Mentang-mentang ga sahur (kan dah ga puasa), kami sekeluarga bangun kesiangan. Aku bangun jam 5.30 . padahal kamar mandi cuma satu dan salat Id mulainya jam 6.30. untung ga keburu. Aku boncengan sama Upit naik motor ke masjid di Joho, sedikit ngebut. Sampai sana, ternyata udah penuh. Untung ada space di ujung sana. Akhirnya salat disana deh. Tapi sayang karena deket ama solokan, baunya harus kuizinkan masuk ke hidung. Derita gue....
Pulang-pulang, seperti tradisi dari jaman kapan, ada halal bihalal di masjid. Banyak orang baru yang ga aku kenal, secara aku ngga pernah di rumah. Trus abis haha hihi hehe hoho sama tetangga, kita pulang and sungkeman sama ortu. Mudik? Yap, seperti yang telah direncanakan kita ga mudik, coz kondisi ayah yang masih belum stabil. Tapi siang tadi, bulik Ning, Om Yanto dan Fadel dateng ke rumah. Setidaknya ketemu saudaralah…
Tapi aku bahagia deh rasanya.....
alhamdulillah....
Selasa, 30 Agustus 2011
Overview Tentang Hari Raya Idul Fitri
Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar. Laa ilaha illa Allah, wa Allahu akbar. Allahu akbar walillahi alhamd.
Ramadhan telah berakhir. Berganti dengan Syawal yang ditandai dengan ndahnya Hari 1 Syawal, hari yang memiliki nuansa khas keislaman, yakni Idul Fitri. Orang-orang berbondong-bondong untuk menuju masjid-masjid atau lapangan-lapangan dengan pakaian yang baru dan bersih, muka yang berseri, dan hati yang bersih pula untuk menuanaikan Salat Id. Halal bihalal pun dilakukan baik dengan keluarga maupun tetangga. Saling memaafkan semua kesalahan yang telah lalu untuk kemudian menjalankan kehidupan yang lebih baik.
Setelah itu, orang –orang kembali ke rumah untuk bersiap-siap berangkat mudik ke kampung halaman atau mengunjungi sanak saudara maupun ziarah kubur keluarga. Tak lupa melengkapi hari itu, menu special Lebaran, ketupat, opor ayam, gulai, dan kue-kue kering yang dimasukkan ke toples. Anak-anak kecil begitu girang mendapatkan salam tempel dari orang tua dan saudara-saudaranya.
Momen mudik ini juga merupakan ajang untuk bertemu keluarga jauh yang jarang sekali bertemu sehingga dapat meningkatkan keakraban keluarga. Biasanya tempat yang dituju untuk mudik/ tempat berkumpul adalah rumah orang yang disebut ayah atau ibu oleh orang tua atau yang dipanggil kakek atau nenek oleh anak. Mereka juga bisa bernostalgia dengan kampong halamannya. Ya, karena fitrah manusia adalah kembali ke tempat asalnya. Maka benarlah kalimat Inna lillahi wa inna ilaihi roji`un.
Walaupun untuk mencapai semua itu mereka harus berkorban harta, pikiran, dan tenaga. Entah dengan menaiki kereta,bis, pesawat terbang, angkot, motor maupun mobil. Apalagi kondisi jalanan yang penuh sesak, macet oleh panjangnya antrian kendaraan di jalanan. Beberapa kecelakaanpun terjadi. Bahkan tak sedikit yang merenggut nyawa.
Namun yang penting dari Idul Fitri itu adalah esensi atau makna yang terkandung di dalamnya.kembali menjadi pribadi suci yang setelah mengalami `training` selama satu bulan maka akan mengalami derajat peningkatan yang lebih baik lagi.
Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar. Laa ilaha illa Allah, wa Allahu akbar. Allahu akbar walillahi alhamd
Itu cerita tentang Hari Raya IdulFitri di negaraku, apa ceritamu?
Sang Filatelis
Tanggal 2708 kemarin, pak pos datang ke rumahku untuk mengantar 2 surat. Yang pertama kartu ucapan Lebaran dari kantor ayah. Yang kedua surat undangan orang tua dari Fakultas Psikologi UGM. Awalnya sih aku kira ada surat untukku dari IC tentang hasil tes minat dan bakat,tapi ternyata memang belum datang. Setelah membaca, kuamati perangko yang menempeldi plastik kartu ucapan Lebaran ayah, mudah dikeletek rupanya. Saat itu di ruang tamu hanaya ada aku dan ibu. Lalu aku teringat hobi ibu waktu masih muda dulu, sebuah hobi yang kurasa sudah jarang sat ini, Filateli.
Kubuka-buka untuk mencari sebuah tempat untuk menyelipkan dua perangko berjajar tersebut, tapi ternyata sudah tak ada tempat. Buku filateli ibu yang berwarna hijau itu bahkan hanya menyisakan lembaran plastik mika antar 2 lembar. Disitulah akhirnya kurekatkan si perangko baru. Mulailah ibu bercerita tentang pengalamannya (lagi) menjadi seorang filateli. Sebab awal ibu mengumpulkan perangko adalah karena ibu dulu suka menulis karya baik puisi maupun cerpen di majalah-majalah. Ketika tulisannya dimuat maka si majalah akan mengirim surat atau wesel untuk ibu. Iseng-iseng, disimpannya perangko itu. Lama-lama ia jadi suka mengumpulkan perangko-perangko itu. “kayaknya sejak ibu SMP”, kata ibu ketika kutanya sejak kapan hobinya itu. Perangko-perangko itu juga seringkali menggambarkan apa yang lagi booming saat itu. Misalnya didirikan ASEAN maka gambar perangkonya lambang ASEAN. Trus pas zamannya pak Suharto jadi presiden, maka gambar perangkonya pak Suharto. ” Coba lihat harganya”,kata ibu. Dengan hati-hati kubuka satu persatu halamannya, “350 rupiah, 10 rupiah, 4 rupiah….nah ini disini yang paling murah 2 rupiah”. Aku liat angka tahun pada perangko 2 rupiah tersebut, ternyata tahun 1967. Bahkan saat itu umur ibu baru 3 tahun. Mustahil. Ya tentu saja. Perangko itu didapat ibu dari surat-surat embah yang sudah lama-lama. Katanya ibu berburu perangko dari surat-surat untuk embah bahkan sampai berburu perangko di suratyang ditujukan untuk sekolah. Ibu bilang, “jadi, temen-temennya ibu yang dapet surat waktu mau ngambil surat tu dah gak ada perangkonya”, hehehe…trus katanya berfilateli di sekolah itu juga menimbulkan persaingan diantara yang hobi filateli juga. Siapa yang cepat maka dia yang dapat. Itu prinsipnya.
Selesai membuka-buka buku itu, ibu mengambil buku lain dari lemari kaca. Buku yang ini adalah buku biasa yang bercover batik warna merah. Di halaman depannya ada tulisan J`taim…..Chѐri, bahasa perancis yang artinya aku mencintaimu kekasihku, ahaha…apa coba nyambungnya. Pokoknya di dalam buku itu ada macam2. Ada lirik lagu2 jadul yang mungkin ibu suka, trus ada sebagian karya-karya ibu yang dimuat di majalah, trus ada juga perangko-perangko yang ditempel, bahkan ni ya ada guntingan gambar aneka burung sama baju adat beberapa daerah, yang ternyata kata ibu,” tau nggak ini darimana? Ini semua dari korek api”. O my God, ibu iseng bgt ngguntingin begituan.
Ya begitulah, aku bisa ngerasain serunya jadi filateli. Bahkan aku pingin nyimpen buku itu nantinya, bukan untuk ngejual tu perangko-perangko itu ke kolektor benda kuno(lah?) tapi untuk ya pingin nyimpen aja. Zaman sekarang masih ada filtelis gak ya? Kan sekarang zamannya internet, tinggal kirim surat via email, atau lewat jejaring sosial, atau langsung aja telepon atau SMS. Dan pos pun semakin ditinggalkan.
(29/8)